“Yang aku tahu, hanya Muhammad bin al-Hanafiyyah yang
banyak menimba ilmu dari ‘Ali.” (Ibn al-Junaid)
Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib,
beliau lebih dikenal dengan Muhammad Ibn al-Hanafiah, sedang terjadi
percekcokan dengan saudaranya al-Hasan ibn Ali, maka Ibn al-Hanafiah
mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah
telah memberikan kelebihan kepadamu atas diriku…Ibumu Fathimah
binti Muhammad ibn Abdullah SAW, sedangkan ibuku seorang wanita dari
Bani “Haniifah.” Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan
makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja’far
ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan
berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku
dalam segala hal.”
Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan…ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini?
Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.
Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan…ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini?
Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.
Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah
SAW.
Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk bersama Nabi SAW, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah…apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.”
“Ya” jawab beliau.
Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk bersama Nabi SAW, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah…apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.”
“Ya” jawab beliau.
Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang
mulia SAW bertemu dengan ar-Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi
Allah)…dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah yang suci,
Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).
Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia
menikahi Khaulah binti Ja’far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang kemudian
melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya “Muhammad”
dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin
Rasulullah SAW. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya
Muhammad ibn al-Hanafiyyah, untuk membedakannya dengan kedua
saudaranya al-Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra.
Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.
Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah
ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan
ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.
Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya…mewarisi
kekuatan dan keberaniannya…menerima kefasihan dan balaghoh darinya.
Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa mimbar
di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail)
apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat
mata-mata tertidur lelap.
Ayahnya RA telah mengutusnya ke dalam
pertempuran-pertempuran yang ia ikuti.
Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban
pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang lain;
al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah
melemah keteguhannya.
Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya,
“Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan
membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam
tempat-tempat yang sempit tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan
al-Husain?”
Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua
saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku…sedangkan aku
menempati kedudukan dua tangannya…sehingga ia (Ali) menjaga kedua
matanya dengan kedua tangannya.”
Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali
ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan RA. Adalah Muhammad ibn
al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya.
Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan
dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan
sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam
perang “Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami
saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang
pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah
perbuatan keji dan besar.
Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang
yang berteriak di belakangku, “Wahai kaum Muslimin…(takutlah
kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)…wahai kaum Muslimin…
Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan
anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?*…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?*…
Wahai kaum Muslimin…takutlah kepada Allah, takutlah
kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma’syarol muslimin.”
Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk
tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
Kemudian Ali RA mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )
Kemudian Ali RA mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )
Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan.
Maka, Muhammad ibn al-Hanafiyyah membaiatnya untuk selalu taat dan
patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya untuk
menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai
izzah bagi Islam dan Muslimin.
Muawiyah RA merasakan ketulusan baiat ini dan
kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal
mana menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk
mengunjunginya.
Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari
sekali…dan lebih dari satu sebab.
Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada
Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling
berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka
bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka
miliki…sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain
dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka.
Maka, apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan)
antara aku dan kamu seperti apa yang terjadi di antara mereka?”
Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.
Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.
Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya.
Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga
seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau
gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang
yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar
yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata
dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua
orang ini, tingginya dan kuatnya?.”
Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Aash,
“Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang
sepertinya bahkan lebih darinya…ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah.
Adapun orang yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”
‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan
ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad ibn
al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”
“Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah
jauh dari kita,” kata Muawiyyah.
“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla
bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk
mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?”
tanya ‘Amr.
Muawiyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal
itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam
padanya.”
Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d
dan Muhammad ibn al-Hanafiyyah.
Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa’d berdiri
dan melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu
melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya untuk
memakainya. Ia pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi sampai di
atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.
Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada
penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini…apabila ia mau,
ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku.
Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku…Dan
bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk…”
Orang Romawi tadi memilih duduk.
Orang Romawi tadi memilih duduk.
Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya)
berdiri…dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk…
Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia
memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya
dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan
lengannya dari pundaknya…dan mendudukkannya di tanah.
Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada
rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.
Hari-hari berputar lagi…
Hari-hari berputar lagi…
Muawiyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam
telah berpindah ke rahmatullah…Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah
kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai
khalifah muslimin dan penduduk Syam membaiatnya.
Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membaiat
Abdullah ibn az-Zubair***.
Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum
membaiatnya untuk membaiatnya…dan mendakwakan kepada manusia bahwa
ia yang paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya.
Barisan kaum muslimin pun terpecah lagi…
Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada
Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk membaiatnya sebagaimana penduduk
Hijaz telah membaiatnya.
Hanya saja Ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa baiat
akan menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia
baiat. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya dan
memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para penyelisihnya
hanyalah orang-orang muslim yang telah berijtihad, lalu membaiat
orang yang tidak ia bai’at.
Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian
di hari “Shiffin.”
Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang
menggelegar dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh kesedihan, dan
suara itu memanggil dari belakangnya, “Wahai kaum
Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah…wahai
kaum Muslimin…
Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan
anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?… Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”..
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?… Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”..
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.
Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair,
“Sesungguhnya engkau mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa
dalam perkara ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula
permintaan…hanyalah aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila
kalimat (suara) mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik,
maka aku akan membaiat orang yang suara mereka berkumpul padanya.
Adapun sekarang, aku tidak membaiatmu…juga tidak membaiatnya.”
Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut
kepadanya dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang lain ia
berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya.
Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang
lama hingga banyak orang yang bergabung dengannya ketika mereka
mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan mereka
kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang dari
orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah. Dan
mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi apinya
yang menyala.
Setiap kalii pengikut Ibn al-Hanafiyyah bertambah
jumlahnya, bertambahlah kemarahan Ibn az-Zubair kepadanya dan ia
terus mendesaknya untuk membaiatnya.
Ketika Ibn az-Zubair telah putus asa, ia
memerintahkannya dan orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim dan
yang lainnya untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit)
mereka di Mekkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi
mereka.
Kemudian ia berkata kepada mereka, “Demi Allah,
sungguh-sungguh kalian harus membaiatku atau benar-benar aku akan
membakar kalian dengan api…
Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan
mengumpulkan kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi rumah-rumah
dengannya hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu
kayu bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.
Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut Ibn
al-Hanafiyyah berdiri kepadanya dan berkata, “Biarkan kami membunuh
Ibn az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”
Ia berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah
dengan tangan-tangan kita yang karenanya kita telah menyepi
(memisahkan diri)…dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah SAW
dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi Allah kita tidak akan
melakukan sedikitpun apa yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya murka.”
Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn
al-Hanafiyah dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn
az-Zubair sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan. Ia melihat
kesempatan emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.
Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya,
yang seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya tentunya
‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut
itu.
Dan di antara isi suratnya adalah, “Telah sampai
berita kepadaku bahwa Ibn az-Zubair telah mempersempit gerakmu dan
orang-orang yang bersamamu…ia memutus tali persaudaraanmu…dan
merendahkan hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap
menjemputmu dan orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan
dan keluasan…singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya engkau
akan menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para
tetangga yang mencintaimu…dan engkau akan mendapatkan kami
orang-orang yang memahami hakmu…menghormati keutamaanmu…dan
menyambung tali persaudaraanmu Insya Allah…
Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang
bersamanya berjalan menuju negeri Syam…sesampainya di “Ublah”,
mereka menetap di sana.
Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling
mulia dan menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.
Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan
mengagungkannya, karena apa yang mereka lihat dari kedalaman
(ketekunan) ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.
Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan
mencegah mereka dari yang munkar. Ia mendirikan syi’ar-syi’ar di
antara mereka dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia
tidak membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.
Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn
Marwan, hal tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian bermusyawarah
dengan orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami
tidak berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di
kerajaanmu. Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui…entah
ia membaiatmu…atau ia kembali ke tempatnya semula.”
Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata,
“Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau singgah
di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi antara diriku
dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah seseorang yang memiliki
tempat dan nama di antara kaum Muslimin. Dan aku melihat agar engkau
tidak tinggal di negeriku kecuali bila engkau membaiatku. Bila engkau
membaiatku, aku akan memberimu seratus kapal yang datang kepadaku
dari “al-Qalzom” kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya.
Bersama itu engkau berhak atas satu juta dirham ditambah dengan
jumlah yang kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu,
kerabatmu, budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau
menolaknya maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak memiliki
kekuasaan atasnya.”
Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan,
“Dari Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan. Assalamu
‘alaika…Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada Ilah
yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih) kepadamu. Amma
ba’du…Barangkali engkau menjadi ketakutan terhadapku. Dan aku
mengira engkau adalah orang yang paham terhadap hakikat sikapku dalam
perkara ini. Aku telah singgah di Mekkah, maka Abdullah ibn az-Zubair
menginginkan aku untuk membaiatnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun
berbuat jahat terhadap pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat
kepadaku, memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah
di sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan
jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis
kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami Insya Allah akan
meninggalkanmu.”
Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan
kelurganya meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali ia singgah di
suatu tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi
darinya.
Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…
Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…
Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya
dari kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan yang lainnya dari
kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah SAW telah menitipkan di hati Ali dan keluarganya banyak
sekali rahasia-rahasia ilmu, qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan
syariat. Beliau telah mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang orang
lain tidak mengetahuinya.”
Orang yang ‘alim, beramal dan mahir ini memahami
betul apa yang diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan, serta
bahaya-bahaya yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun
mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka…ia memuji
Allah AWJ dan menyanjungnya dan bershalawat atas Nabi-Nya Muhammad
SAW…kemudian berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami
segenap Ahlul Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah SAW mengkhususkan
kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada siapapun selain kami.
Dan kami –demi Allah- tidaklah mewarisi dari Rasulullah melainkan
apa yang ada di antara dua lembaran ini, (dan ia menunjuk ke arah
mushaf). Dan sesungguhnya barangsiapa yang beranggapan bahwa kami
mempunyai sesuatu yang kami baca selain kitab Allah, sungguh ia telah
berdusta.”
Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam
kepadanya, mereka berkata, “Assalamu’alaika wahai Mahdi.”
Ia menjawab, “Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat
petunjuk) kepada kebaikan…dan kalian adalah para Mahdi kepada
kebaikan Insya Allah…akan tetapi apabila salah seorang dari kalian
mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan namaku.
Hendaklah ia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad.”
Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn
al-Hanafiyyah tentang tempat yang akan ia tinggali beserta
orang-orang yang bersamanya…Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj
ibn Yusuf ats-Tsaqofi menumpas Abdullah ibn az-Zubair…dan agar
manusia seluruhnya membaiat Abdul Malik ibn Marwan.
Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat
kepada Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul Malik ibn Marwan,
Amirul Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du…Sesungguhnya
setelah aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia
membaiatmu. Maka, aku seperti orang dari mereka. Aku membaiatmu untuk
walimu di Hijaz. Aku mengirimkan baiatku ini secara tertulis.
Wassalamu’alaika.”
Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada
para sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya ia ingin memecah
tongkat ketaatan (baca: keluar dari ketaatan) dan membikin perpecahan
dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya engkau
tidak memiliki jalan atasnya…Maka tulislah kepadanya dengan
perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan Rasul-Nya agar ia
tidak diusir dan diusik, ia dan para sahabatnya.”
Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya.
Hanya saja Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama setelah itu.
Allah telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla
dan diridlai.
Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn
al-Hanafiyah di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan ruhnya di
surga…ia termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi
tidak pula ketinggian di antara manusia.
CATATAN KAKI:
* Ad-Dailami adalah masyarakat besar yang berada di
utara Qazwain, muslimin memerangi mereka kemudian mereka memeluk
Islam
** Al-‘Ilj adalah orang yang kuat dan besar dari
orang-orang kafir non Arab
*** Ia adalah putra Asma binti ash-Shiddiq yamg berhasil menaklukkan kawasan Afrika
*** Ia adalah putra Asma binti ash-Shiddiq yamg berhasil menaklukkan kawasan Afrika
SUMBER BACAAN:
Sebagai tambahan tentang kisah Muhammad Ibn
al-Hanafiyyah, lihat:
- Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III: 174
- Tahdziib at-Tahdziib, IX:354
- Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi (cet. Halab), II: 77-79
- Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, V:91
- Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583
- Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169
- Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H
- Syadzarat adz-Dzahab, I:89
- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89
- Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76
- Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah: 123
- Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII
- Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu’aim, III: 174
- Tahdziib at-Tahdziib, IX:354
- Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi (cet. Halab), II: 77-79
- Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’d, V:91
- Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583
- Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169
- Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H
- Syadzarat adz-Dzahab, I:89
- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89
- Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76
- Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah: 123
- Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII
Untuk melihat DAFTAR PENCARIAN ARTIKEL klik disini http://www.ungarankota.com/2015/05/daftar-pencarian-artikel.html

0 komentar:
Posting Komentar