“Aku tidak pernah melihat seseorang lebih faqih dalam
wara’nya, dan lebih wara’ dalam fiqihnya” (Muriq Al-’Ijly)
Sirin telah ber’azam (bertekad kuat) untuk melengkapi
separuh agamanya (menikah) setelah Anas bin Malik RA. memerdekakannya
dan setelah pekerjaannya bisa menghasilkan banyak keuntungan dan
harta yang berlimpah.
Sirin adalah seorang pandai besi
yang mahir dan piawai dalam membuat panci.
Pilihannya telah jatuh pada seorang budak wanita Amirul Mukminin, Abu Bakar as-Shiddiq RA., yang bernama Shofiyyah untuk menjadi istrinya.
Shofiyyah adalah budak wanita yang masih muda belia, wajahnya bercahaya, akalnya cerdas, mulia tabiatnya, luhur akhlaknya dan dicintai oleh setiap wanita Madinah yang mengenalnya.
Pilihannya telah jatuh pada seorang budak wanita Amirul Mukminin, Abu Bakar as-Shiddiq RA., yang bernama Shofiyyah untuk menjadi istrinya.
Shofiyyah adalah budak wanita yang masih muda belia, wajahnya bercahaya, akalnya cerdas, mulia tabiatnya, luhur akhlaknya dan dicintai oleh setiap wanita Madinah yang mengenalnya.
Tidak ada bedanya dalam hal itu antara remaja-remaja
putri yang seusia dengannya dan antara ibu-ibu yang sudah berumur
namun menganggapnya selevel dengan mereka dalam hal kecerdasan akal
dan keluhuran akhlak.
Di antara wanita-wanita yang paling mengasihinya adalah
istri-istri Rasul SAW terlebih lagi Sayyidah Aisyah RA.
Sirin datang menghadap Amirul mu’minin, lalu melamar
budak wanitanya, shofiyyah.
Sementara Abu Bakar ash-Shiddiq RA segera mencari tahu tentang agama dan akhlak si pelamar layaknya seorang ayah yang amat mengasihi saat mencari tahu kondisi si pelamar anak perempuannya.
Sementara Abu Bakar ash-Shiddiq RA segera mencari tahu tentang agama dan akhlak si pelamar layaknya seorang ayah yang amat mengasihi saat mencari tahu kondisi si pelamar anak perempuannya.
Dan itu tidaklah aneh, sebab Shofiyyah bagi dirinya
sama posisinya dengan posisi seorang anak bagi ayahnya. Di samping
itu, dia adalah amanat yang Allah titipkan di pundaknya.
Lalu Abu Bakar mulai meneliti dengan sangat cermat
kondisi Sirin dan menelusuri secara detail riwayat hidupnya.
Karena itu, orang pertama yang beliau tanyai mengenai
siapa dirinya adalah Anas bin Malik RA.
Maka Anaspun berkata kepadanya,
“Nikahkanlah Shofiyyah dengannya wahai Amirul Mukminin, dan engkau jangan khawatir dia akan bertindak kasar terhadapnya. Yang aku ketahui darinya hanyalah orang yang benar agamanya, mengesankan akhlaqnya dan sempurna maruah dan kelelakiannya.
“Nikahkanlah Shofiyyah dengannya wahai Amirul Mukminin, dan engkau jangan khawatir dia akan bertindak kasar terhadapnya. Yang aku ketahui darinya hanyalah orang yang benar agamanya, mengesankan akhlaqnya dan sempurna maruah dan kelelakiannya.
Dia sudah terbina dengan pendidikanku sejak ditawan
oleh Khalid bin Al-Walid pada perang “’Ain at-Tamr” [Sebuah
kawasan yang terletak bagian selatan Kufah, berhasil ditaklukkan
Khalid bin al-Walid pada masa kekhilafahan Abu Bakar] bersama empat
puluh orang anak-anak lainnya, lalu dia membawa mereka ke Madinah.
Kebetulan, Sirin adalah bagianku dan aku merasa beruntung
mendapatkannya.”
Akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq RA setuju atas
pernikahan Shofiyyah dengan Sirin dan bertekad untuk memperlakukannya
secara baik sebagaimana perlakuan baik seorang ayah terhadap anak
yang paling dikasihinya. Karena itu, dia mengadakan pesta perkawinan
yang meriah, yang amat jarang ada wanita-wanita Madinah kala itu yang
bernasib baik seperti ini.
Hadir sebagai undangan pesta pernikahan itu sejumlah
besar para pembesar shahabat. Di antara mereka ada sebanyak 18 orang
Ahli Badar. Juga turut mendoakannya, penulis wahyu Rasulullah, Ubay
bin Ka’b dan diamini doanya oleh para undangan.
Bukan itu saja, bahkan tiga orang Ummahatul Mukminin
turut menempelkan wewangian ke badannya dan meriasnya ketika akan
dipersandingkan dengan calon suami.
Sebagai buah dari pernikahan yang diberkahi tersebut,
lahirlah dari kedua orangtua tersebut seorang anak yang sepanjang 20
tahun menjadi salah satu dari bintang para Tabi’in dan tokoh tiada
duanya dari kalangan kaum Muslimin pada masanya. Dia lah Muhammad bin
Sirin.
Mari kita mulai kisah kehidupan seorang Tabi’i yang
agung ini dari mula pertama.
Muhammad bin Sirin dilahirkan dua tahun menjelang berakhirnya kekhilafahan, Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan RA.
Muhammad bin Sirin dilahirkan dua tahun menjelang berakhirnya kekhilafahan, Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan RA.
Dididik di sebuah rumah yang dipenuhi oleh sifat wara’
dan taqwa dari segala sudutnya.
Dan ketika sudah menginjak usia baligh, si anak yang
baik pekerti dan cerdas ini mendapatkan masjid Rasulullah SAW.,
disesaki oleh sisa-sisa para shahabat yang mulia dan para senior
kalangan Tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, ‘Imran
al-Hushain, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas,
‘Abdullah bin az-Zubair dan Abu Hurairah.
Maka dia pun menyongsong mereka layaknya orang yang
haus menyongsong sumber air yang demikian bening. Menimba ilmu
Kitabullah, Fiqhuddin (memahami agama) dan periwayatan hadits dari
mereka, sehingga hal itu dapat mengisi akalnya dengan hikmah dan ilmu
serta memerisai dirina dengan keshalihan dan kelurusan (berpetunjuk).
Kemudian keluarganya membawa pemuda yang langka ini
pindah ke Bashrah, untuk kemudian menjadi tempat menetap mereka.
Ketika itu, Bashrah masih merupakan kota yang baru dibuka. Kaum
Muslimin berhasil membukanya pada akhir-akhir kekhilafahan ‘Umar,
al-Faruq, RA.
Pada masa itu, Bashrah masih merupakan kota yang
mewakili karakteristik umat Islam. Ia merupakan pangkalan militer
tentara kaum Muslimin yang berperang di jalan Allah. Ia merupakan
pusat pengajaran dan penyuluhan bagi orang-orang dari penduduk Iraq
dan Persia yang masuk Islam. Ia adalah potret masyarakat Islam yang
bekerja keras di dalam beramal untuk dunia seakan hidup
selama-lamanya dan beramal untuk akhirat seakan-akan kematian
menjelang esok hari.
Di dalam menempuh hidupnya yang baru di Bashrah,
Muhammad bin Sirin mengambil dua cara yang berimbang dan transparan:
pertama, memfokuskan pada separuh harinya untuk menimba ilmu dan
beribadah. Kedua, memperuntukkan sebagiannya lagi untuk mencari rizki
dan berbisnis.
Bila fajar telah menyingsing dan dunia telah
memancarkan cahaya Rabb-nya, beliau berangkat ke masjid untuk
mengajar dan belajar hingga bila matahari sudah naik, beliau beranjak
dari masjid menuju pasar untuk berjual-beli.
Bilamana malam telah tiba dan sudah mengibar tabir
untuk menyelimuti alam semesta, beliau berbaris di Mihrab rumahnya,
merundukkan tulang punggung guna mengulang juz-juz al-Qur’an dan
menangis karena takut kepada Allah dengan linangan air mata kedua
mata dan hatinya. Sampai-sampai keluarga dan para tetangga dekatnya
merasa kasihan terhadapnya lantaran seringnya mereka mendengar
tangisanya yang seakan memutus urat nadi hati.
Sekalipun biasa berkeliling ke pasar pada siang hari
untuk berjual-beli, namun beliau senantiasa mengingatkan manusia akan
akhirat dan membuka mata mereka akan fitnah dunia. Beliau biasa
bercerita kepada mereka dengan cerita menarik dan membimbing mereka
kepada hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah serta memutuskan
perkara yang diperselisihkan di antara mereka.
Terkadang dalam satu dan lain kesempatan, beliau
bercerita kepada mereka dengan cerita yang enak didengar sehingga
mampu menghapuskan keburaman jiwa mereka tanpa harus mengurangi
kewibawaan dan keagungan citra beliau di sisi mereka.
Allah telah menganugerahi beliau sebagai sosok penuntun
dan geliat Ahli kebajikan serta mengaruniai beliau sebagai orang yang
dapat diterima dan punya pengaruh.
Manakala orang-orang yang tengah tenggelam dalam
suasana dan lalai kebetulan melihat beliau di pasar, mereka jadi
tersadar lantas mengingat Allah, bertahlil dan bertakbir.
Riwayat hidup yang beliau praktikkan merupakan tuntuan
yang baik bagi manusia. Tiadalah dua hal yang dihadapinya di dalam
perniagaannya kecuali beliau akan mengambil mana di antara keduanya
yang lebih menambat dirinya dengan agamanya sekalipun mengakibatkan
kerugian duniawi bagi dirinya.
Pemahamannya yang detail terhadap rahasia-rahasia agama
dan kebenaran pandangannya terhadap hal mana yang halal dan haram
terkadang mendorongnya untuk mengambil sebagian sikap yang tampaknya
aneh bagi manusia.
Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang
menuduhnya punya hutang kepadanya sebanyak dua dirham secara dusta,
namun beliau menolak untuk memberikannya.
Lalu laki-laki itu berkata kepadanya, “Anda bersedia
untuk bersumpah.?” Sementara orang itu mengira bahwa beliau tidak
akan bersumpah karena hanya uang dua dirham saja.
“Ya, aku bersedia.” Jawabnya sembari bersumpah setelah itu.
“Ya, aku bersedia.” Jawabnya sembari bersumpah setelah itu.
Maka orang-orang pun berkata kepadanya, “Wahai Abu
Bakar! Apakah kamu akan bersumpah juga untuk uang yang hanya dua
dirham itu.?”
“Ya, aku akan bersumpah. Sebab, aku tidak ingin memakan hal yang haram sementara aku tahu bahwa ia haram.” Katanya.
“Ya, aku akan bersumpah. Sebab, aku tidak ingin memakan hal yang haram sementara aku tahu bahwa ia haram.” Katanya.
Majlis yang diisi oleh Ibn Sirin adalah majlis
kebajikan dan penuh dengan wejangan. Bila disinggung nama seseorang
yang berbuat kejahatan di sisinya, beliau langsung mengingatkan orang
itu dengan penyelesaian yang dia tahu itu adalah terbaik baginya.
Bahkan, suatu ketika beliau mendengar ada salah seorang
yang mencaci maki al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafy, salah seorang
penguasa Bani Umayyah yang amat tirani. Para sejarawan banyak memuat
kisah kebengisan, kekejaman dan kebiadabannya) sepeninggalnya, maka
dia menyongsong orang tersebut sembari berkata kepadanya,
“Diam, wahai saudaraku!!!. Sebab al-Hajjaj sudah berpulang ke Rabb-nya. Sesungguhnya dosa paling hina yang engkau lakukan akan engkau dapatkan ketika menghadap Tuhanmu lebih berat bagimu ketimbang dosa paling besar yang dilakukan al-Hajjaj. Masing-masing kalian akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketahuilah, wahai anak saudaraku, bahwa Allah pasti akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan al-Hajjaj untuk orang-orang yang pernah dizhaliminya. Demikian pula, Dia akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan oleh mereka untuknya. Jadi, janganlah sekali-kali engkau menyibukkan dirimu dengan mencaci-maki siapapun.”
“Diam, wahai saudaraku!!!. Sebab al-Hajjaj sudah berpulang ke Rabb-nya. Sesungguhnya dosa paling hina yang engkau lakukan akan engkau dapatkan ketika menghadap Tuhanmu lebih berat bagimu ketimbang dosa paling besar yang dilakukan al-Hajjaj. Masing-masing kalian akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketahuilah, wahai anak saudaraku, bahwa Allah pasti akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan al-Hajjaj untuk orang-orang yang pernah dizhaliminya. Demikian pula, Dia akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan oleh mereka untuknya. Jadi, janganlah sekali-kali engkau menyibukkan dirimu dengan mencaci-maki siapapun.”
Bila ada orang yang berpamitan kepadanya untuk suatu
perjalanan bisnis, beliau selalu berpesan kepadanya,
“Bertakwalah kepada Allah, wahai anak saudaraku! Carilah rizki ditakdirkan kepadamu dengan cara yang halal. Ketahuilah bahwa jika engkau mencarinya tanpa cara yang halal, niscaya kamu tidak akan mendapatkannya lebih banyak dari apa yang telah ditakdirkan kepadamu.”
“Bertakwalah kepada Allah, wahai anak saudaraku! Carilah rizki ditakdirkan kepadamu dengan cara yang halal. Ketahuilah bahwa jika engkau mencarinya tanpa cara yang halal, niscaya kamu tidak akan mendapatkannya lebih banyak dari apa yang telah ditakdirkan kepadamu.”
Muhammad bin Sirin memiliki catatan sejarah yang dapat
dibuktikan dan amat masyhur di dalam menghadapi penguasa Bani Umayyah
dimana beliau berani mengucapkan kebenaran dan dengan ikhlash
memberikan nasehat bagi Allah, Rasul-Nya serta para pemimpin kaum
Muslimin.
Di antara contohnya, kisah ‘Umar bin Hubairah
al-Fazary, salah seorang tokoh besar Bani Umayyah dan penguasa
kawasan Iraq yang mengirimkan surat untuk mengundangya berkunjung
kepadanya. Maka, beliaupun datang menjumpainya bersama anak
saudaranya.
Tatkala beliau datang, sang penguasa ini menyambungnya
dengan hangat, memberikan penghormatan untuk kedatangannya,
meninggikan tempat duduknya serta menanyakannya seputar beberapa
masalah agama dan dien, kemudian berkata kepadanya,
“Bagaimana kondisi penduduk negerimu saat engkau meninggalkannya, wahai Abu Bakar?.”
“Bagaimana kondisi penduduk negerimu saat engkau meninggalkannya, wahai Abu Bakar?.”
“Aku tinggalkan mereka dalam kondisi kezhaliman
meraja lela terhadap mereka dan kamu lalai terhadap mereka.”
Katanya. Karena ucapan ini, anak saudaranya memberikan isyarat dengan
pundaknya. Lalu beliau menoleh ke arahnya sembari berkata, “Engkau
bukanlah orang yang kelak akan dipertanyakan tentang mereka tetapi
akulah orang yang akan dipertanyakan itu. Ini adalah persaksian,
siapa yang menyembunyikannya, maka hatinya berdosa.” (dengan
mengutip untaian ayat 283 surat al-Baqarah)
Ketika pertemuan itu bubar, ‘Umar bin Hubairah
mengucapkan selamat berpisah kepadanya dengan perlakuan yang sama
saat menyambutnya, yaitu dengan penuh kehangatan dan penghormatan.
Bahkan dia memberikannya sebuah kantong berisi uang
3000 dinar, namun Ibn Sirin tidak mengambilnya.
Karena penolakan itu, anak saudaranya berkata
kepadanya,
“Apa sih yang menyebabkanmu tidak mau menerima pemberian Amir?.”
“Apa sih yang menyebabkanmu tidak mau menerima pemberian Amir?.”
“Dia memberiku karena baik sangkanya terhadapku. Jika
aku benar termasuk orang-orang yang baik sebagaimana sangkaannya,
maka tidaklah pantas bagiku untuk menerimanya. Bila aku tidak seperti
yang disangkanya itu, maka adalah lebih pantas lagi bagiku untuk
tidak membolehkan menerima itu.”
Sudah menjadi kehendak Allah untuk menguji ketulusan
dan kesabaran Muhammad bin Sirin. Karena itu, Dia mengujinya dengan
ujian yang biasa dihadapi oleh orang-orang beriman.
Di antaranya, bahwa suatu hari beliau membeli minyak
secara kredit dengan harga 40.000 dinar. Tatkala dia membuka salah
satu tutupan wadah minyak yang terbuat dari kulit itu, dia
mendapatkan seekor tikur yang mati dan sudah membusuk. Beliau berkata
di dalam hatinya, “Sesungguhnya semua minyak ini berasal dari satu
tempat penyaringan. Najis yang ada bukan hanya ada di dalam satu
wadah ini saja. Jika, aku kembalikan kepada si penjual karena alasan
ada aibnya, barangkali saja dia akan menjualnya lagi kepada orang
lain.” Kemudian beliau menumpahkan semuanya.
Hal itu terjadi di saat beliau mengalami kerugian besar
sehingga dililit hutang. Ketika pemilik minyak itu menagih uangnya,
beliau tidak dapat mengembalikannya.
Maka, masalah itupun diadukan kepada penguasa di sana
yang lalu memerintahkan agar mengurung beliau hingga mampu membayar
hutang tersebut.
Ketika berada di penjara dan mendekam di situ beberapa
lama, sipir penjaga penjara merasa kasihan terhadapnya karena
mengetahui betapa kemapanan ilmu agamanya, kewara’annya yang amat
berlebihan serta ibadahnya yang demikian panjang. Maka berkatalah
sipir itu kepadanya,
“Wahai tuan guru, bilamana sudah malam, silahkan engkau kembali ke keluargamu dan bermalamlah bersama mereka. Bila sudah pagi, maka kembalilah ke sini. Teruslah demikian hingga engkau dibebaskan.”
“Wahai tuan guru, bilamana sudah malam, silahkan engkau kembali ke keluargamu dan bermalamlah bersama mereka. Bila sudah pagi, maka kembalilah ke sini. Teruslah demikian hingga engkau dibebaskan.”
Beliau menjawab,
“Demi Allah, hal ini tidak akan pernah aku lakukan.”
“Kenapa? Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.” Tanya sipir
“Demi Allah, hal ini tidak akan pernah aku lakukan.”
“Kenapa? Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.” Tanya sipir
“Yah, hingga aku tidak terlibat dalam
bertolong-tolong atas pengkhiatan terhadap penguasa negeri ini.”
Ketika Anas bin Malik RA., dekat ajalnya, dia berwasiat
agar yang memandikan dan mengimami shalat atasnya adalah Muhammad bin
Sirin yang saat itu masih di penjara.
Tatkala Anas wafat, orang-orang mendatangi penguasa itu
dan memberitakannya perihal wasiat shahabat Rasulullah SAW., dan
Khadim-nya tersebut, lalu mereka meminta izinnya agar membiarkan
Muhammad bin Sirin ikuat bersama mereka untuk merealisasikan wasiat
itu, maka sang penguasa pun mengizinkannya.
Lantas berkatalah Muhammad bin Sirin kepada
mereka,
“Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara hanya karena ada hutang yang aku harus bayar kepadanya.” Maka si tukang minyakpun mengizinkannya juga.
“Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara hanya karena ada hutang yang aku harus bayar kepadanya.” Maka si tukang minyakpun mengizinkannya juga.
Ketika itulah, beliau keluar dari penjara, kemudian
memandikan dan mengkafani Anas RA. Setelah itu, dia kembali ke
penjara sebagaimana biasanya dan tidak sempat menjenguk keluarganya
sendiri.
Muhammad bin Sirin mencapai usia 77 tahun. Tatkala
kematian menjemputnya, dia mendapatkan dirinya sudah enteng karena
tidak memikul beban duniawi lagi namun memiliki bekal yang banyak
untuk kehidupan setelah kematian.
Hafshoh bintu Rasyid yang merupakan salah seorang
wanita ahli ‘ibadah bercerita,
“Adalah Marwan al-Mahmaly tetangga kami. Dia seorang ahli ibadah dan pegiat dalam berbuat ta’at. Ketika dia wafat, kami sedih luar biasa. Di dalam tidur aku bermimpi melihatnya, lalu aku bertanya kepadanya,
‘Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang diperbuat Rabbmu terhadapmu.?’
“Adalah Marwan al-Mahmaly tetangga kami. Dia seorang ahli ibadah dan pegiat dalam berbuat ta’at. Ketika dia wafat, kami sedih luar biasa. Di dalam tidur aku bermimpi melihatnya, lalu aku bertanya kepadanya,
‘Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang diperbuat Rabbmu terhadapmu.?’
‘Dia telah memasukkanku ke dalam
surga.’jawabnya
‘Lalu apa lagi?.’ Tanyaku
‘Lalu aku dinaikkan untuk bertemu Ash-habul Yamin (Golongan kanan, ahli surga).’jawabnya lagi
‘Lalu apa lagi?.’ Tanyaku
‘Lalu aku dinaikkan untuk bertemu Ash-habul Yamin (Golongan kanan, ahli surga).’jawabnya lagi
‘Kemudian apa lagi.?’ Tanyaku lagi
‘Kemudian aku dinaikkan lagi untuk bertemu al-Muqarrabun (Generasi awal).’ Jawabnya lagi
‘Kemudian aku dinaikkan lagi untuk bertemu al-Muqarrabun (Generasi awal).’ Jawabnya lagi
‘Siapa saja yang engkau lihat ada di sana.?’
Tanyaku lagi
‘Ada al-Hasan al-Bashary dan Muhammad bin Sirin…’ Jawabnya.
‘Ada al-Hasan al-Bashary dan Muhammad bin Sirin…’ Jawabnya.
CATATAN:
Sebagai bahan tambahan mengenai biografi Muhammad bin Sirin, silahkan merujuk:
1. ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jld.III:385; IV:333; VI:27; VII:11,19,154 dan VIII: 246 dan halaman-halaman lainnya.
2. Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauzy, Jld.III:241-248.
3. Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâny, Jld.II:263-282.
4. Târîkh Baghdad karya al-Khathîb al-Baghdâdy, Jld.V:331.
5. Syadzarât adz-Dzahab, Jld.I:138-139.
6. Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khalakân, Jld.III:321-322.
7. al-Wafayât karya Ahmad bin Hasan bin Ali bin al-Khathîb, h.109.
8. Al-Wâfy Bi al-wafayat karya ash-Shafady, Jld.III:146.
9. Thabaqât al-Huffâzh, Jld.III:9.
Sebagai bahan tambahan mengenai biografi Muhammad bin Sirin, silahkan merujuk:
1. ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jld.III:385; IV:333; VI:27; VII:11,19,154 dan VIII: 246 dan halaman-halaman lainnya.
2. Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauzy, Jld.III:241-248.
3. Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâny, Jld.II:263-282.
4. Târîkh Baghdad karya al-Khathîb al-Baghdâdy, Jld.V:331.
5. Syadzarât adz-Dzahab, Jld.I:138-139.
6. Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khalakân, Jld.III:321-322.
7. al-Wafayât karya Ahmad bin Hasan bin Ali bin al-Khathîb, h.109.
8. Al-Wâfy Bi al-wafayat karya ash-Shafady, Jld.III:146.
9. Thabaqât al-Huffâzh, Jld.III:9.
Untuk melihat DAFTAR PENCARIAN ARTIKEL klik disini http://www.ungarankota.com/2015/05/daftar-pencarian-artikel.html

0 komentar:
Posting Komentar