Tapi kenyataannya, Teladan Hidup kita, yaitu Rosululloh saw pelaku poligami.
Dan tidak nampak dalam diri Rosululloh saw kepayahan seperti yg terjadi diatas. Ibadah Rosululloh saw tidak berkurang, dan beliaupun tetap istiqomah mengurus umat agar istiqomah dalam beriqomatuddin.
Seharusnya poligami bisa memiliki possitive result ( hasil yg baik ) seperti apa yang terjadi pada diri Rosululloh saw dan keluarganya, faktor apa yang dominan sehingga membentuk keluarga poligami Rosululloh saw begitu bersinar dan cahanya terang benderang sampai hari ini menjadi tutur kata yang indah didengar dan menarik dikaji setiap masa.
Pendapat saya, Indahnya keluarga Rosululloh saw adalah karena pondasi dan atap rumah tangga Rosululloh saw adalah Taqwa.
Takwa yang tergambar dari perkataan menantu Rosululloh saw juga memantu beliau yaitu Ali Bin Abi Tholib RA , Taqwa adalah, kehidupan yang warnanya dan bentuk orientasinya adalah :
1. Takut kepada Alloh SWT ( الخوف بالجليل )
2. Mengamalkan syariat ( Al Quran dan Sunah sebagai panduan hidup ) ( العمل بالتنزيل )
3. Merasa Cukup dengan yang sedikit ( القناعة بالقليل )
4. Hidup didunia untuk mempersiapkan akhirat yg baik, ( الاستعداد ليوم الرحيل )
Rosululloh dan keluarganya jauh dari menempatkan dunia sebagai orientasi hidupnya. Mereka ttp menghadapi dunia dengan bekerja dan bermasyarakat.
Bahkan ada riwayat yaitu istri beliau yang bernama Zainab binti Jahsy RA adalah wanita yang paling duluan bertemu Rosululloh saw di surga, disebabkan karena Zainab adalah memiliki pekerjaan yg mengahsilkan uang ( making money ) kemudian beliau bersedekah dari hasil pekerjaannya sendiri.
Dunia dalam pandangan Rosululloh saw dan keluarganya adalah sarana bukan tujuan. Tujuan hidup Rosululloh adalah Ridho dan Surga Alloh swt.
Hal inilah menurut saya yang menjadi persoalan mendasar yg harus di pahami oleh para pelaku poligami agar kehidupan keluarganya indah dan romantis. Sebab indah dan romantis itu dengan akhlak karimah bukan dengan materi saja. Sekalipun materi juga bagian penting dalam pengembangan hidup keluarga.
Selama materi / harta tetaplah difungsikan sebagai sarana yg mempengaruhi ( bukan penentu ) kebahagiaan dan bukan sebagai tujuan hidup sebagaimana sekuleris dan para pemuja hedonisme menempatkannya sebagai ultimate goal.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pelaku poligami ataupun yang ingin berpoligami.
Terimakasih telah membacanya.
Jazakumullohu khoir.
0 komentar:
Posting Komentar