BELANJA KREDIT ONLINE

Minggu, 17 Mei 2015

Keutamaan Puasa Ramadhan dan Hikmah Pensyariatan Puasa Ramadhan

Majmu' minal Ulama

Keutamaannya

Dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، ومَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhori, No. 1901, Muslim, No. 760).

www.ungaankota.com

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةَ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

"Shalat lima waktu, Jum'at ke Jum'at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar." (HR. Muslim no. 549)

Inilah sebagian riwayat tentang keutamaan puasa Ramadhan, dan keutamannya sangatlah banyak.

Hikmah Berpuasa Pada Bulan Tersebut

Allah subhanahu mensyari'atkan puasa untuk hikmah dan faidah yang sangat banyak, diantaranya :

a) Tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa), mensucikannya, dan memurnikan jiwa dari campuran yang kotor dan akhlak yang jelek; karena puasa menyempitkan lalu-lalangnya Syaithan dalam badan manusia.
b) Puasa menjadikan zuhud pada dunia dan syahwatnya, dan sebagai targhib (motivasi) untuk mengejar akhirat dan kenikmatannya.
c) Puasa membangkitkan rasa sayang pada orang-orang miskin dan merasakan kepedihan mereka; karena orang yang berpuasa merasakan rasa lapar dan haus.
Dan seterusnya dari hikmah dan faidah yang sangat jelas lagi banyak.

(Dari Kitab Fiqhul Muyassar fii Dhau al-Kitabi wa as-Sunnah, Penulis Majmu' minal Ulama, Taqdim asy Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh, hal 151)

0 komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR FACEBOOK